Pagi itu sangat cerah, sinar mentari menelusuk masuk melalui sulur beringin tua yang nampak angkuh. Kilatan cahaya dilontarkan percikan air danau memantul ke atas dahan. Kesan itu menggelayutkan tidur Astuti yang semakin dalam dibawah rindangnya pohon beringin itu. Genap satu minggu Astuti si ular betina itu tertidur pulas tanpa gangguan setelah memakan anak rusa yang bertubuh tambun.
"Plak", kerikil kecil mengenai kepala Astuti. Perlahan mata lebarnya terbuka, diedarkan pandangan matanya ke sekeliling untuk mencari siapa gerangan yang berani mengganggu tidurnya. "Plak", kali ini badan tambunnya yang terkena lemparan batu yang ukurannya lebih besar dari batu pertama tadi. Menggeliat badan Astuti, dijulurkan kepalanya semakin ke atas agar semakin jelas pandangan mata jelinya. sepotong tanduk bercabang terlihat samar menyumbul dari balik batu hitam di tepian danau.
Andira segera melompat menaiki batu hitam yang telah dijadikan tempat persembunyiannya sejak subuh tadi. Berkilatan tubuh Andira, warna kuning emas berlinangkan warna putih bak emas bertahtakan berlian saat diterpa kilau mentari pagi. Tanduknya yang sempurna menandakan bahwa ia adalah induk rusa yang mempesona.
Dengan geram dan garang Astuti segera menghampiri Andira, namun karena perutnya belum selesai mencerna habis makanannya, maka gerakannya menjadi lambat. "Siapa kamu?" tanya Astuti. "Aku Andira, ratu rusa dari kerajaan Padang Bukit Hijau". Menekuk tubuh ular betina kemudian dilingkarkannya kembali seperti saat tidurnya tadi. "Kerajaan Padang Bukit Hijau?" melenguh Astuti mengeja nama kerajaan yang disebutkan Andira. "baru kali ini kudengar nama kerajaan itu, dimanakah tempatnya kerajaan itu wahai Andira?". Senyum Andira mengembang mendengar jawaban Astuti. "Tak jauh dari pinggir hutan ini wahai ratu ular, hutan ini dan kerajaan kami dipisahkan oleh sebuah aliran sungai yang lebar namun aliran airnya tidak deras". Kembali Astuti mengendorkan lingkaran tubuhnya dan kembali menuju ke tempatnya semula.
Andira melangkah dengan hati-hati mengikuti Astuti. Sesampainya di bawah beringin tua itu, Astuti bertanya kembali "apa maksudmu mengganggu tidur ku?". Tergopoh Andira hendak menjawab pertanyaan itu, "maaf Sang Ratu, hamba tidak tahu lagi bagaimana caranya membangunkan Ratu" jawab Andira. "Sejak tengah malam hamba memanggil-manggil Sang Ratu namun Ratu tak jua terbangun", sambung Andira.
"Ada apa gerangan yang membuatmu rela menunggu aku bangun wahai Andira?" tanya Astuti lagi. "Begini Ratu, hamba diutus oleh Raja Padang Bukit Hijau menyampaikan undangan pesta untuk Ratu" jawab Andira sekenanya. "Hemm, pesta apakah gerangan yang akan dilaksanakan oleh rajamu?". Tergopoh Andira mencari jawaban atas pertanyaan Astuti, "Ehmm, anu Ratu, kerajaan kami hendak mengadakan pesta sukuran karena tahun ini kerajaan kami tidak mengalami kekeringan". Sejenak jawaban Andira terputus.
"Oleh karena tidak ada kekeringan, maka padang rumput kami menghijau, makanan kami berlimpah, tak kurang apapun jua, karena itu sepantasnyalah kita mewujudkan rasa sukur itu dengan berbagi kebahagiaan dengan penghuni hutan ini" dengan tegas Andira melanjutkan jawabannya. "Ohh.., kapankah pesta itu diadakan?" sergah Astuti. "Maaf Ratu, sebenarnya hamba terlambat sampai di sini karena dalam perjalanan hamba sempat kehilangan anak semata wayang hamba", sejenak Andira menghentikan jawabannya. "karena itulah hamba terlambat menyampaikan undangan ini". "Tak mengapa Andira, jadi kapan pestanya?" tanya Astuti, dengan cepat Andira menjawab "Tengah malam nanti baginda". "Hey... nanti malam kau bilang?" bentak Ratu Ular Astuti. "I..i..iya Ratu, nanti malam pestanya akan digelar" terbata-bata Andira meneruskan ucapannya.
"Maaf Ratu, jikalau Ratu berkenan tengah hari nanti kita berangkat, hamba akan mengantar Ratu ke kerajaan hamba", ucap Andira penuh harap. "Baiklah, sebentar lagi matahari bersinar di puncak langit, beristirahatlah sebentar" imbuh Ratu Ular. Cerah berbinar mata lentik Andira mendengar Astuti menyanggupi permintaannya. Berbinar mata hatinya karena rencana balas dendamnya akan terlaksana.
Matahari telah sedikit bergeser ke arah barat, Astuti dan Andira telah cukup jauh melakukan perjalanan mereka. "Tuan Ratu, sebentar lagi kita akan sampai di pinggir hutan", kata Andira memulai pembicaraan, sambil mendongakkan kepala ke arah matahari, Andira kemudian melanjutkan ucapannya "setelah kita keluar hutan, maka kita akan bertemu dengan aliran sungai yang lebar, di seberang sungai itulah tempat kerajaan kami berada". Astuti, Ratu ular itu diam tidak menjawab keterangan Andira.
Waktu pun beranjak senja, meski langit belum gelap namun suana sejuk telah melingkupi tepian hutan. Sepoi angin mengayun pelan ranting kering kemudian mematahkannya. Deru air sungai pun telah terdengar menggebu, menggantikan irama jangkrik dan belalang yang berisik di dalam hutan. Kecipak katak dan ikan kecil bergantian di tepian sungai saling mengejek. Kerikil kecil beraturan membentang sepanjang tepian sungai, di sela-selanya nampak pongah beberapa potong kayu tua yang lapuk dimakan usia.
Sesampainya di tepian sungai, Astuti menghentikan perjalanannya, sementara Andira telah beberapa langkah memasuki aliran sungai. "Tuan Ratu, kenapa Tuan berhenti?" tanya Andira. "Hei Andira, kau tahu kalau aku ini ular tanah, mana mungkin aku bisa berenang" tukas Astuti. "Maafkan hamba Tuan Ratu, sungai ini memang lebar, namun tidak dalam, Tuan Ratu tidak perlu berenang, berjalanlah seperti biasa sambil menjulurkan kepala lebih tinggi". Dengan terpaksa diikuti juga saran Andira.
Ditengah aliran sungai, betapa terkejutnya Astuti Ratu Ular, beberapa kali tubuhnya tertabrak beberapa ikan yang hilir mudik saling silang. Melihat hal itu, Andira tertawa dalam hati. "Ini masih permulaan, kau rasakan nanti pembalasan yang sesungguhnya" tukasnya dalam hati.
Beberapa langkah sebelum sampai seberang, Andira menghentikan langkahnya. "Mengapa kau berhenti wahai Rusa bentina, percepat langkahmu agar kita cepat sampai di tepian". Ucapan sang Ratu Ular membuat Andira sedikit gugup, kemudian dengan kecerdikannya Andira berucap "Ratu, didepan sana ada pusaran air kkita harus menghindarinya dengan mengarah ke kiri agar kita tidak tersedot pusaran air itu". Selesai mengatakan alasannya, Andira segera melompat ke arah kiri diikuti liukan tubuh Ratu Ular.
Sebenarnya pusaran air tersebut hanya akal-akalan Andira saja. Arah kiri diberikan Andira karena di daerah tersebut adalah sarang buaya yang ukurannya lebih besar dari ratu ular. Tapi kenapa Andira berani memasuki sarang buaya itu?, sebenarnya buaya-buaya itu adalah sahabat Andira. Beberapa tahun yang lalu, buaya-buaya itu tinggal di daerah rawa-rawa yang sering kekeringan. Jadi karena iba hati, maka Andira memberitahu mereka kalau buaya boleh tinggal di aliran sungai Padang Bukit Hijau dengan syarat buaya tidak boleh memangsa kawanan rusa yang tinggal di Padang Bukit Hijau. Para buaya pun menyetujui syarat itu dan mereka dapat hidup tanpa saling mengganggu.
Begitu juga saat kesedihan Andira karena anaknya dimakan oleh Astuti, maka buaya pun hendak membalas budi baik Andira, buaya berjanji akan membantu membalaskan dendam Andira.
Sesampainya di arah sungai yang ditunjukkan oleh Andira, Astuti pun terperangah, seakan merasakan sesuatu yang meresahkan hatinya, terasa janggal Astuti melihat alirah sungai di sisi kiri tersebut. Tak ayal lagi, sebelum lebih jauh meliukkan badannya, Astuti merasakan ekornya dicengkeram kuat oleh taring tajam buaya. Melihat hal itu, Andira secepat kilat melompat ke pinggir sungai menggunakan punggung buaya yang juga sahabatnya itu sebagai pijakan.
Beberapa buaya tampak saling membahu melumpuhkan Ratu Ular Betina pemakan anak Andira, sedangkan Astuti nampak kewalahan mengimbangi kekuatan buaya garang. Tak selang beberapa waktu, Astuti kelelahan juga.
Di ujung akhir hayat Astuti, Induk Rusa berdiri dengan tenang di tepian. Sambil memandang tubuh Astuti yang berkalang darah, Andira berkata "Tak ingatkah engkau wahai ular jahat, seminggu yang lalu engkau dengan tega memakan anak gadisku" berlinang air mata Andira mengingat kelucuan anak gadisnya yang telah tiada, kemudian Andira melanjutkan ucapannya "Kini dendamku telah terbalaskan dibantu kawan-kawan setia ku". Berakhir ucapan Andira sampai disitu, berakhir pula riwayat Sang Ratu Ular penghuni pohon beringin raksasa, kejahatannya sirna digulung aliran sungai Padang Bukit Hijau yang permai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar