YANG CONGKAK
Penulis : Aliyul Wafa
Cuit..cuit..cuit..nyaring riuh suara nyanyian si Murba, semilir angin mengantar nyanyian itu hingga ujung hutan kecil yang terletak di garis khatulistiwa. Irama merdu itu terdengar hampir seharian, para penghuni hutan sudah terbiasa menikmati anugerah suara indah yang diberikan Tuhan kepada Murba si burung Murai Batu.
Nyanyian Murba dimulai saat mentari hendak naik ke singgasananya, seakan mengiringi pancaran cahaya jingga yang perlahan berubah menjadi putih bersih membawa kehangatan bagi alam semesta. Nyanyian itu tak akan merendah meskipun mentari sudah di puncak, Murba akan tetap bernyanyi sambil berteduh di rindangnya mahoni. Bahkan hingga mentari mulai bersiap untuk kembali ke peraduan, Murba tak lelah bersenandung.
Di kejauhan, nampak pohon Enau yang menjulang tinggi, daunnya hanya beberapa helai. Koek...koek..koek.., terdengar jeritan beberapa anak burung yang bersarang di antara pelepah Enau, menanti induk membawa pulang beberapa kerat daging untuk makan siang.
Kepak sayap hitam tampak berkilau di kejauhan, diterpa mentari yang sedang berada dipuncak cakrawala, badannya yang tidak seberapa besar membuat induk burung itu tidak dapat terbang lebih tinggi lagi, namun sayapnya yang kuat semakin cepat dikepakkan membuat induk burung hitam itu semakin cepat sampai di puncak pohon Enau. Sesampainya di sela-sela pelepah Enau, dengan segera induk burung Gagak menyuap sekerat daging untuk anak-anaknya.
Usai menyuap makan anak-anaknya, Ravi si burung Gagak segera menghujam terbang ke bawah, bertengger ia di batang kering pohon kenari, mengamati keriuhan penduduk hutan yang sedang berkumpul di sebidang tanah kering dekat tepian sungai. Nampak dari kejauhan si Murba bertengger di atas batu hitam yang letaknya agak tinggi, di hadapannya berdiri kawanan rusa, musang, dua ekor anak gajah, empat ekor kucing hutan, kawanan kelinci dan beberapa ayam hutan. Sedangkan sang ular sedang bergelayut di ranting pohon didampingi oleh beberapa burung hantu.
"Ada apa gerangan?" tanya Ravi dalam hati. Diamatinya kembali keadaan di bawah rindangnya pohon kenari itu.
"Amboi !, merdu sekali suara mu wahai Murba", puji kawanan rusa. Ayam hutan menimpali pujian tersebut dengan berkokok bersahutan, sementara kawanan kelinci memanggut-manggutkan kepala tanda setuju dengan pujian kawan-kawan mereka.
"Ah, biasa saja" jawab Murba besar kepala, kemudian sambil mendongakkan kepala si burung Murai batu kembali meneruskan nyanyiannya.
Konser Murba berlanjut hingga matahari mulai beranjak ke barat. Setelah semua kawanan hewan beranjak dari tanah kering tempat Murba memamerkan suara merdunya, maka Ravi pun turun menghampiri Murba.
"Murba, bersyukurlah engkau yang dikaruniai suara merdu" sapa Ravi.
Murba dengan sombongnya tidak mempedulikan ucapan Ravi. Sambil mematut ekornya yang panjang, Murba memamerkan suaranya kepada Ravi.
"Sombong benar si kawan ini", membatin Ravi sambil mengepakkan sayapnya terbang meninggalkan Murba.
Keesokan harinya, Ravi telah bertengger di batang ranting pohon mahoni tempat biasa Murba bersenandung sepanjang hari, dilihatnya keadaan masih sepi, belum ada kumpulan rusa maupun ayam hutan yang menunggu kicauan Murba. "Tumben belum ada yang datang" tanya Ravi dalam hati. "Biar ku tunggu saja barang sejenak, siapa tahu sebentar lagi mereka akan berkumpul". Dengan sabar Ravi menunggu kedatangan Murba dan kawan-kawan, namun hingga matahari sepenggalah tidak juga datang. Hingga terkejutlah Ravi ketika datang dua orang pemburu mendekati batu hitam tempat biasa si Murba bertengger. Salah seorang pemburu kemudian mengoleskan cairan kental ke batu hitam tersebut. Selang beberapa lama, pemburu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Ravi terbang merendah meneliti setiap jengkal tanah tanah kering tempat si Murba bernyanyi, dilihatnya dengan hati-hati batu hitam tempat biasa Murba bertengger. Setelah beberapa saat meneliti tempat tersebut, maka dalam hati Ravi berujar "ternyata pemburu hendak menjerat si Murba, pemburu ingin menangkapnya". Ravi pun terbang meninggi, kembali ke ranting semula dia bertengger tadi. "Kasihan Murba, nanti akan aku peringatkan kalau dia dalam bahaya". Ditunggunya si Murba sambil menghabiskan sisa sarapannya.
Tidak beberapa lama, datanglah kawanan rusa dan ayam hutan, menyusul dibelakang beberapa ekor anak gajah yang berlari kecil. Mereka sampai di tanah kering dekat tepian sungai, mereka berkumpul hendak mendengarkan senandung Murba.
Saat matahari mendekati puncak langit, Murba terbang dengan cepat menuju tempat kawan-kawannya berkumpul, dengan cekatan si Murba bertengger dengan gagahnya di atas batu hitam. Bak raja yang duduk di singgasana, Murba memperbaiki ekornya yang berantakan tertiup angin saat terbang tadi.
Cuit...cuit..cuit.., Murba memberikan kidung pendahuluan. Sebelum melanjutkan kidungnya, Murba sedikit memberikan sesorah. "Wahai kawan-kawan ku, sebelum aku menyenandungkan kidung hari ini, aku hendak bertanya".
"pertanyaan apa yang hendak kau sampaikan kepada kami wahai Murba?", tanya rusa kepada Murba. Kembali Murba merapikan ekor panjangnya, "siapakah di hutan ini yang paling merdu suaranya?". Dengan suara sepakat, kawanan hewan tersebut menjawab "Engkaulah wahai Murba pemilik suara merdu di hutan ini".
Makin mendongaklah kepala Murba mendengar pujian kawan-kawannya. Dimajukan dadanya seperti hendak mengambil napas panjang. Namun, terkejut Murba ketika Ravi terbang menukik tajam hendak menabraknya. Dengan geram, Murba menghardik Ravi. "Hai Gagak hitam jelek !, hendak mencelakai ku rupanya kau?".
Dengan tenang Ravi berjalan mendekati Murba "Sabarlah wahai kawan ku" ucap Ravi. Kemudian Ravi menjelaskan duduk perkara kenapa ia hendak menabraknya, Ravi menghalangi Murba agar Murba tidak terinjak oleh perangkap yang dipasang pemburu yang tadi pagi telah memasang perangkap di tempat biasa Murba bertengger.
Murba yang sudah kepalang congkak tidak percaya akan penjelasan Ravi. "Kau memang tukang membual wahai Gagak jelek !" ejek Murba kepada Ravi, kemudian ejekan itu dilanjutkannya "Kau iri kepada ku karena suara mu tak semerdu suara ku, makanya kau hendak mencelakai ku !"
Kecewa Ravi mendengar ejekan Murba, niat membantu dibalas dengan ucapan yang menyakitkan. Seketika itu terbanglah Ravi menjauhi kerumunan kawanan Murba, Ravi terbang ke sarangnya untuk menemui anak-anaknya.
Sementara itu, pemburu yang lelah berkeliling sedang beristirahat di bawah rindangnya pepohonan hutan, sambil menikmati bekal makanan dari rumah mereka merasakan sepoi sejuknya semilir angin hutan. Di tengah-tengah waktu makan, kedua pemburu terkejut mendengar jeritan parau seekor burung.
"Hei, kau dengar suara burung itu?" tanya Samin kepada Simon.
"Oh... hei..iya, pasti itu suara burung yang terkena perangkap yang telah kita pasang tadi pagi", jawab Simon.
"Amboy...senangnya, marilah kita cari perangkap mana yang terdapat burung tangkapan", ajak Samin.
Selang beberapa lama, para pemburu telah menemukan perangkap yang berhasil menjerat burung. Terkejutlah Samin dan Simon karena di perangkap itu terjerat seekor burung yang gemuk badannya, panjang ekornya dan merdu suaranya. "Pasti mahal kalau kita jual burung ini, Mon" teriak Samin gembira. "Iya, Min." jawab Simon sambil menganggukkan kepalanya.
Bergegas Samin dan Simon keluar hutan sambil membawa burung tangkapan mereka. Sementara Ravi hanya dapat memandang sedih karena tidak akan terdengar lagi nyanyian merdu Murba si burung Murai Batu.
Demikianlah akhir riwayat burung Murai batu yg congkak. Tuhan memberikan anugerah kepada makhluknya tidak untuk disombongkan, melainkan harus disyukuri agar anugerah tersebut senantiasa bermanfaat untuk dirinya dan makhluk lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar