Kamis, 05 April 2018

PEPPY, SI PEMBURU GARONG



PEPPY, SI PEMBURU GARONG

Penulis : Aliyul Wafa


Prang...prang...krompyang, berjatuhan piring dan gelas di dapur sederhana milik keluarga Humaira. Suara mengeong saling bersahutan antara Peppy dan Garong, saling serang antar keduanya menimbulkan gaduh hingga halaman belakang. Perut Garong tertumbuk kepala Peppy, membuat tubuh Garong berguling beberapa kali di rerumputan. Tumbukan Peppy ternyata membuat nyali Garong ciut, secepat kilat Garong melompat pagar, pergi meninggalkan kediaman yang dihuni oleh keluarga Humaira, gadis kecil yang masih duduk di taman kanak-kanak.



Garong adalah kucing liar yang acapkali membuat keributan, kadangkala mencuri ikan di meja makan, merusak tanah taman kecil Humaira yang penuh dengan melati, kadang kala sembarangan membuang kotoran. Tak jarang Humaira geram karena perbuatan Si Garong.

Peppy, kucing peliharan Humaira, baru beberapa hari dibelikan ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya. Peppy memiliki bulu berwarna coklat keemasan, tubuhnya gemuk menggemaskan. Sejak datang, Peppy langsung jatuh hati kepada Humaira, pemiliknya. Tidak jarang Peppy menunggu di depan pintu saat Humaira pulang sekolah.

Namun, kedatangan Peppy membuat Garong meradang, karena Peppy selalu mengusirnya saat dia hendak memasuki rumah majikannya. Tidak jarang Peppy mengusir lalu mengejar Garong hingga ke ujung gang perumahan.

Suatu pagi, saat liburan sekolah. Peppy sedang asyik menjilati ekor panjangnya di halaman depan, sedangkan Humaira sekeluarga pergi jalan-jalan ke pusat kota. Pelan-pelan Garong mendekati pagar rumah, sekali lompat Garong sudah mendarat di rerumputan halaman belakang, Peppy tidak mengendus kedatangan Garong.

Setelah sampai depan pintu belakang, Garong berhenti sejenak mengamati keadaan. Kemudian Garong perlahan menuju ke arah jendela yang terlihat sedikit terbuka, Sesampainya di bawah jendela, dengan cepat Garong melompat dan segera masuk ke rumah. Dapur adalah tujuan utama Garong, dengan sigap Garong segera menuju meja makan yang berada tepat di samping jendela yang terbuka tadi. 

Dapur Humaira tidaklah besar, tidak pula kecil, sederhana namun menampung segala perlengkapan memasak miminda Humaira. Di tengah dapur terdapat meja makan ukuran sedang yang terbuat dari kayu jati, warnanya coklat kehitaman lengkap dengan enam kursinya. Di atas meja makan, terlihat oleh Garong sebuah tudung saji, "Hmmm, pasti makanan lezat di balik tudung saji itu", pikir Garong kegirangan. Segeralah Garong melompat ke atas meja makan, digesernya tudung saji perlahan-lahan, "krompyaaaaang" suara tudung saji terjatuh ke lantai. Alangkah terkejutnya Garong karena di balik tudung saji itu tidak tersimpan makanan apapun. Maklum hari libur, miminda Humaira sengaja tidak memasak karena mereka berencana berkunjung ke rumah nenek di pusat kota.

Sementara itu, mendengar bunyi benda jatuh, Peppy dengan sigap berlari ke dapur untuk memeriksa keadaan. Sesampainya di dapur, peppy mengeong lantang seakan hendak mencengkram leher Garong. Mendengar suara peppy, sontak membuat Garong terkejut dan dengan segera mengambil langkah seribu meninggalkan rumah. Melihat lawannya kabur, Peppy memburu secepat kilat.

Garong dengan tangkasnya melompati pagar disusul Peppy tepat di belakangnya, mereka seolah saling berebut didepan untuk segera melumpuhkan lawannya. Setelah melewati pagar, Garong secepatnya berlalu menuju pagar tembok rumah tetangga Humaira, pagar itu agak tinggi sehingga membuat Garong beberapa kali gagal melewatinya. Karena dilihatnya Peppy semakin dekat, maka Garong memutar haluan. Garong merubah arah menuju tumpukan kayu dekat tembok di samping halaman belakang, segera dipanjatnya tumpukan kayu dan melompat ke jalan kecil yang memisahkan rumah humaira dan tetangganya.

Di belakang, Peppy dengan sabar menguntit langkah Garong, diikutinya permainan Garong. Terkadang dibiarkannya Garong seolah merasa Peppy menyerah tidak memburunya, padahal Peppy mengintai di atas atap, memang cerdik kucing piaraan si gadis cantik, Humaira.

Garong sudah sampai ke jalan perumahan depan rumah humaira, kemudian dia berbelok untuk menuju ke simpang jalan raya yang ramai kendaraannya. Merasa akan kehilangan buruan, Peppy menambah kecepatan larinya, diburunya Garong hingga jarak mereka tinggal beberapa lompatan saja. Namun nahas, untung tak dapat diraih, rugi tak dapat ditolak, Garong yang merasa terancam segera menambah kecepatan larinya sehingga di ujung jalan sebelum simpang, Garong tidak memperhatikan ramainya mobil yang lalu lalang. Saat masuk ke pertigaan, pelarian Garong terhenti. Garong menggelepar di depan sebuah mobil pengangkut pasir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar