Monyet Sahabat Kura-kura
Penulis : Aliyul Wafa
Terlihat di kejauhan seekor monyet sedang bergelayut di batang pohon raksasa yang sudah sangat tua, pohon itu begitu rindang, sehingga banyak hewan yang bermain di sekitarnya. Di belakang pohon itu terdapat sumber air yang sangat jernih, sumber air itu tertahan oleh tanah yang meninggi sehingga membentuk telaga kecil. Kawanan burung, rusa, monyet dan kura-kura sering bermain bersama di telaga.
Hari itu matahari sangat terik, sehingga telaga ramai dipenuhi oleh kawanan hewan, ada yang menghilangkan dahaga atau hanya sekedar berlindung di bawah rindangnya pepohonan sekitar telaga. Bebek dan angsa berkecipak sambil sesekali menenggelamkan kepala mereka. Kawanan rusa asyik menghilangkan dahaga, di samping mereka berjejer empat induk gajah mengibaskan air ke tubuh tambun mereka, sambil sesekali memperhatikan tingkah anak-anak mereka yang berkecipak air telaga. Sungguh pemandangan ciptaan Tuhan Yang Maha Perkasa.
Seekor monyet yang sedari tadi bergelayut, akhirnya turun mendekati kura-kura yang termenung menyendiri di antara bebatuan tepian telaga. Sesampainya di tepian telaga, monyet yang di tangannya penuh memegang empat pisang segera menyapa kura-kura, "Hei Ramut karib ku, kenapa murung wajah mu ?" tanya Momon sambil menyodorkan sebuah pisang ke arah Ramut. Tak bergeming Ramut dari bermenungnya, sesekali ditutup matanya. Momon dengan sabar menunggu Ramut sambil menghabiskan pisang yang dipegangnya, sedangkan pisang yang telah disodorkan ke Ramut tadi dimakannya juga.
Tak beberapa lama, Ramot menangis sedih, dipandangi wajah Momon yang bulat karena kebanyakan makan. Dengan suara lirih, Ramot berujar kepada Momon, "Tuhan tak adil !", terkejut Momon mendengar sahabatnya berkata demikian sehingga pisang yang sudah ada di mulutnya termuntahkan.
"Kenapa kau bicara begitu, Ramut ?", tanya Momon.
"Tuhan tak adil padaku", Ramut mengulangi ucapannya yang tadi. Kemudian disambungnya "Tuhan menciptakan aku sebagai hewan yang sangat lemah, lambat, jelek rupa, tak seperti kau yang bisa bergerak cepat, kau bisa lompat sana lompat sini, kau bisa memanjat pisang dan pepohonan tinggi".
"Ha..ha..ha..ha.. Mut, Ramut !", menggelegar tertawa Momon mendengar jawaban Ramut.
"Tuhan Maha Adil, Mut", Momon menjelaskan kepada Ramut. "Kau memang lambat, tapi Tuhan memberikan mu tempurung yang kuat sebagai tempat berlindung dari binatang buas". Kemudian Momon melanjutkan "Kau dianugerahkan umur yang panjang, sehingga kau dapat menikmati hidup ini lebih lama". Ramut terdiam mendengar nasihat sahabatnya.
"Memang betul yang kau ucapkan", jawab Ramut. "Tapi, sesekali aku juga ingin merasakan dapat melompat tinggi, bergelantungan di pohon" rengek si Ramut.
"Aha ! aku ada ide", jawab Momon kegirangan. "Besok pagi ku tunggu kedatanganmu di dekat rumahku, besok akan aku wujudkan keinginanmu", setelah berkata demikian, Momon pun berlalu. Sementara Ramut masih tetap berdiam diri di tepian telaga, namun wajahnya sudah tidak murung lagi.
Malam pun datang, Ramut telah kembali ke rumahnya yang tidak jauh dari telaga. Dimasukkannya kepala serta kakinya kedalam tempurung untuk menjaga agar tetap hangat. Binatang malam mulai berkeliaran, kodok bersenandung sengau bersautan sesama mereka, jangkrik ikut serta mengiringi senandung mereka. Sesekali burung bangau berkecipak mengambil makanan di tengah telaga, sementara burung hantu tetap terjaga hingga bulan purnama perlahan merendah.
Kokok ayam hutan lantang bersahutan, di ujung ranting burung murai batu menyertai dengan jeritan merdunya. Bunyi gemericik air telaga menandakan bahwa binatang hutan sudah mulai memulai hari. Nampak sinar merah mulai menggores langit, perlahan berubah menjadi warna kekuningan dan akhirnya sinar terang putih cemerlang datang membawa kehangatan.
Momon memulai hari dengan bergelayut menyisir tanaman rambutan, dilihatnya satu persatu pokok besar yang tumbuh saling silang, diperiksanya rumpun daunnya, dipilihnya buah mana yang sudah masak dan siap untuk dijadikannya menu sarapan. Sementara itu di tepian telaga, perlahan Ramut menyusuri tepian telaga yang berbatu, diperiksanya sela-sela bebatuan, sesekali digesernya batu kerikil untuk mencari ikan-ikan kecil sebagai santap paginya.
Setelah cukup kenyang, Ramut si kura-kura segera bergegas menuju rumah Momon si kera tambun. Rumah Momon tidak seberapa jauh sehingga Ramut tidak perlu berlama-lama untuk sampai ke tempat tujuannya. Sesampai di rumah Momon, yaitu sebatang pohon beringin tua, Ramut segera memanggil-manggil nama Momon. Mendengar namanya dipanggil, Momon segera menghampiri asal suara yang memanggilnya.
"Hai, Mut. Cepat kali kau datang", sapa Momon.
"Ya, Mon. Tak sabar aku menanti kau wujudkan keinginanku semalam", jawab Ramut.
"Baiklah, mari ikuti aku" ajak Momon sembari melompat ke arah pohon beringin yang bersulur, sedangkan Ramut berjalan pelan di belakang Momon. Pohon beringin itu memang pohon yang sudah tua, sulur-sulurnya menyebar ke semua penjuru batang, sulurnya panjang hingga menjulur hampir ke tanah, sehingga mudah digapai.
Sesampainya di pohon beringin yang mereka tuju, Momon segera mencari potongan sulur untuk dipakai mengikat Ramut.
"Cepat naik ke punggung ku", pinta Momon ke Ramut.
Perlahan Ramut menaiki punggung si Momon. Kemudian Momon mengikatkan tubuh Ramut ke tubuhnya sehingga tubuh Ramut menempel kuat pada tubuh Momon. Setelah persiapan dirasa cukup, Momon memegang sulur beringin dan mulai berlompatan dari satu sulur ke sulur yang lain. Ramut menjerit kegirangan merasakan impiannya tercapai. Momon membawa tubuh Ramut semakin menjauh, melompat, berlari kencang kesana kemari. Dua sahabat itu menghabiskan waktu dengan bersenang-senang hingga matahari tergelincir ke arah barat.
Begitulah menjadi sahabat, mampu memberikan kegembiraan kepada sahabat yang sedang dilanda kesedihan, mampu membuat senyuman dan ketenangan hati sahabat yang sedang dilanda petaka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar