Selasa, 24 April 2018
RUSA PUTIH DAN KALUNG PERMATA PUTERI ZAHARA
Riang hati Puteri Zahara menunggangi kuda poni kesayangannya, hilir mudik mengelilingi padang rumput di pinggir hutan. Hari itu Puteri Zahara diajak oleh raja untuk berburu binatang ke hutan yang terletak di balik bukit, hutan itu masih terlihat sangat rimbun dan masih banyak hewan berkeliaran yang cocok untuk diburu demi kesenangan.
Puteri Zahara memang tomboy perangainya, kesukaannya menunggang kuda dan memanah seperti layaknya perangai lelaki. Kesehariannya di kerajaan sering menghabiskan waktu di kandang kuda untuk merawat kuda-kudanya, sesekali waktu Puteri Zahara menghabiskan waktu ditaman, bukan untuk bermain boneka, tetapi belajar memanah. Semua kegiatan puteri dilakukannya bersama dengan pengasuhnya, Wak Karto.
Sore itu, ketika puteri berkeliling di padang rumput di tepi hutan, tiba-tiba saja pandangan puteri tertuju kepada sebuah benda yang berkilauan diterpa matahari sore. Seperti bintik-bintik mutiara putih yang terangkai di selembar kulit, kilaunya membuat Puteri Zahara terpana sejenak.
“Amboi !, benda apa gerangan itu ? cantik berkilau bak permata.” Gumam Puteri Zahara
Setelah sadar dari keheranannya, Puteri Zahara segera beranjak untuk mendekati benda berkilau itu. Tidak jauh memang jarak benda tersebut, mengendap-endap Puteri Zahara mendekati tempat benda tersebut, sehingga saat jarak semakin dekat, Puteri Zahara terkejut bukan main karena benda berkilau tersebut dapat melompat dan berlari menjauhi Puteri Zahara.
Masih dalam keadaan terkejut, Puteri Zahara sontak berlari mengejar benda yang membuat penasaran hatinya. Wak Karto, pengasuhnya terkejut melihat puteri asuhannya berlari masuk hutan.
“Puteri !,” seru Wak Karto.
Puteri Zahara acuh, “Sebentar Wak, hanya sebentar..!.” teriaknya menjawab seruan Wak Karto.
Ranting dan sulur-sulur tumbuhan hutan yang tumbuh tak beraturan ditabraknya begitu saja, tak dihiraukannya gerumbul perdu yang menghalagi langkahnya. Hingga sampai di tepi sebuah sungai kecil yang jernih airnya, Puteri Zahara berhenti. Dilihatnya seekor rusa telah berdiri di tepian seberang sungai itu, mata rusa itu mengamati dengan teliti postur Puteri Zahara yang sedang berdiri terengah-engah menahan napas.
Sementara itu, Puteri Zahara yang masih mengatur napasnya sedikit demi sedikit mengambil posisi untuk bisa mengamati dan mengenali rusa yang dikejarnya tersebut.
“Aneh...,” pikir Puteri Zahara. Baru kali ini puteri melihat ada rusa berwarna putih. Tubuhnya diselimuti bintik berwarna abu-abu, sehingga membuatnya terlihat seperti kilau mutiara jika diterpa cahaya matahari.
“Subhannallah, indah betul ciptaan Tuhan, baru kali ini Zahara bertemu dengan rusa cantik seperti itu, Zahara ingin merawatnya di kerajaan,” gumamnya dalam hati.
Belum selesai mengamati tubuh rusa, kekecewaan Puteri Zahara muncul karena rusa segera berlari meninggalkan Puteri Zahara yang masih terkagum-kagum dengan perawakan rusa yang baru dilihatnya. Niat hati hendak mengejarnya, tapi sungai kecil didepannya menghalangi jalannya. Dengan tertunduk kecewa, Puteri Zahara segera menghentikan pengejaran dan berlalu kembali ke padang rumput.
Dalam perjalanannya kembali ke padang rumput, Puteri Zahara kembali melewati gerumbul perdu dan semak belukar. Hatinya yang kecewa membuat pikirannya kacau dan tidak konsentrasi menapaki jalan setapak, sehingga membuat Puteri terjerembab jatuh di kubangan kecil. Pakaiannya basah dan kalung kesukaannya pun terlepas dari leher puteri kecil itu.
Setelah bangkit, puteri langsung bergegas melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa sehingga puteri tidak menyadari kalungnya terjatuh. Kalung itu merupakan pertanda bahwa dia merupakan anggota kerajaan, setiap anggota kerajaan pasti mengenakan kalung yang indah dan mahal tersebut. Kalung yang terbuat dari untaian mutiara-mutiara putih kecil yang dilengkapi dengan bandul yang terbuat dari permata hijau.
Sementara itu, di tengah hutan rimbun, terlihat sepasang rusa yang sedang menikmati minum sore di tepi telaga yang airnya jernih. Di ujung telaga, tumbuh beringin tua yang sulur-sulurnya bertebaran. Sekeliling telaga tumbuh berbagai tanaman buah yang membuat hewan penghuni hutan tidak kekurangan makanan. Sore hari seperti saat itu, banyak hewan yang menghabiskan waktu untuk menikmati waktu menjelang malam datang, tidak terkecuali sepasang rusa betina yang bernama Rossa dan Rossi.
Rossi, si Rusa Putih bercerita kepada Rossa bahwasanya tadi pagi ia telah bertemu seorang puteri dari kerajaan seberang hutan. Rossa yang agak sombong tidak mempedulikannya. Rossa merasa bahwa Rossi terlahir tidak sama seperti rusa pada umumnya yang berwarna coklat, itulah kenapa Rossa sering berbuat tidak adil kepada Rossi. Rossa sering menjuluki Rossi sebagai rusa kutukan, rusa bodoh atau julukan-julukan jelek lainnya. Sementara Rossi hanya bisa bersabar atas kelakuan kawannya itu.
Keesokan harinya, Rossi yang ternyata juga penasaran kepada sosok Puteri Zahara, melakukan perjalanan ke padang rumput tempat dimana ia bertemu dengan Puteri Zahara. Dengan gesit dan lincah, Rossi berlari riang menuju padang rumput. Tidak lama kemudian, Rossi sampai di tepi hutan.
Dipandanginya padang rumput, sepi, tak nampak seorangpun dari kerajaan. Rupanya acara berburu yang diselengarakan kerajaan telah usai. Kecewa hati Rossi karena tidak dapat bertemu dengan Puteri Zahara, Rossi segera kembali masuk hutan dengan wajah muram, disusurinya jalan setapak, jalan yang kemarin dilalui oleh Puteri Zahara. Betapa terkejutnya Rossi ketika kakinya terkait oleh sebuah tali, terguling tubuhnya akibat kaitan tali tersebut. Rossi bangkit dari tanah tempat ia jatuh, dilihatnya kaki kanan belakang yang terkait tali, betapa terkejutnya ia karena tali yang membuat ia jatuh ternyata sebuah kalung. Rossi memungut kalung tersebut dan segera ingatannya tertuju kepada Puteri Zahara.
“Ini pasti kalung permata Puteri Zahara,” ujarnya dalam hati.
Kemudian Rossi diam sejenak dan berpikir untuk mengembalikan kalung itu ke Puteri Zahara. Rossi memandang ke langit, matahari nampak masih belum naik ke puncak.
“Masih belum seberapa siang, kalau aku berangkat ke kerajaan sekarang, sebelum matahari terbenam pasti aku akan sampai di sana.” pikirnya.
Segera saja Rossi berlari menyeberangi padang rumput yang luas, sesampainya di seberang tepian padang rumput, Rossi menyempatkan melahap rumput yang hijau segar untuk menambah tenaganya agar tidak kelaparan saat melewati bukit kecil nanti. Setelah kenyang melahap rumput hijau, Rossi segera melanjutkan perjalanannya menuju kerajaan dimana Puteri Zahara tinggal.
Matahari telah sampai di puncak, cuaca tidak seberapa panas karena beberapa gumpal mendung bergulung-gulung menari di angkasa. Rossi telah sampai di puncak bukit, dipandanginya pemandangan di bawah bukit terlihat di kejauhan berkibar-kibar bendera hijau yang terpasang di puncak loteng benteng kerajaan.
“Ah, sudah dekat perjalananku.” Gumamnya dengan hati lega.
Segera saja Rossi melanjutkan perjalanannya yang tinggal sesaat lagi. Menuruni bukit tentu saja tidak memerlukan banyak tenaga, apalagi bukit yang masih termasuk kedalam wilayah kekuasaan kerajaan itu memiliki panorama yang sangat indah. Bukit tersebut memiliki Jurang-jurang dan tebing berjejer membentuk benteng yang melindungi kerajaan, sungai-sungai kecil yang saling silang seolah membentuk labirin yang keberadaannya dapat mencukupi kebutuhan ikan seluruh rakyat, dibagian lereng-lereng dipenuhi oleh berbagai macam pohon yang buahnya sangat lezat. Sungguh karunia luar biasa yang diberikan Tuhan kepada kerajaan Zahara.
Selang beberapa waktu, tibalah Rossi di batas benteng kerajaan. Rossi memasuki kerajaan tidak melewati pintu gerbang kerajaan, melainkan menyusup melalui perdu-perdu yang sengaja dibiarkan tumbuh liar di belakang istana kerajaan.
Setelah berhasil memasuki istana, Rossi segera mengelilingi taman luar istana untuk mengenali bagian-bagian istana, hal itu dilakukan Rossi hingga larut malam sehingga membuatnya kelelahan dan tertidur di bawah pohon rindang. Terlalu lelap tidur Rossi sehingga ia tak sadar kalau penjaga istana mengetahui keberadaannya yang memaksanya untuk segera ditangkap dan dimasukkan ke kandang hewan milik istana.
Keesokan harinya, kerajaan gempar akibat kabar burung yang telah menyebar ke seluruh kerajaan, kabar burung tersebut mengabarkan bahwa telah tertangkap seekor hewan aneh berupa rusa yang memiliki kulit berwarna putih dan memakai kalung anggota kerajaan. Kabar burung tersebut mengakibatkan banyak rakyat kerajaan yang penasaran dan ingin melihat penampakan hewan tersebut.
Kabar burung tersebut ternyata telah sampai ke telinga Puteri Zahara. Tentu saja sang puteri segera menyuruh pengasuh setianya untuk segera membawanya ke kandang tempat dimana hewan tersebut dikurung.
Sesampainya di kandang tahanan, puteri segera memerintahkan penjaga untuk membuka pintu kandang. Setelah pintu kandang terbuka lebar, terlihat seekor rusa meringkuk di pojokan kandang. Perlahan puteri memasuki kandang, pelan-pelan didekatinya rusa yang masih dalam keadaan lemas karena kelelahan, dan memang benar bahwa rusa yang ditangkap penjaga adalah Rossi si rusa kulit putih.
“Alhamdulillah, akhirnya kita dipertemukan kembali.” Ujar puteri bahagia.
Setelah jarak puteri semakin dekat, rusa merasakan getaran yang berbeda sehingga membuat kesehatan Rossi segera membaik. Matanya dibuka perlahan, nampak samar-samar oleh Rossi seorang gadis berambut panjang berdiri di sampingnya. Melihat Rossi telah membuka mata, Puteri Zahara segera menghampiri dan membelai lembut kepala Rossi.
Akhirnya, setelah keadaan Rossi semakin membaik dan sudah dapat berjalan, Rossi dibawa masuk oleh Puteri Zahara ke dalam wilayah istana. Rossi ditempatkan di kandang hewan puteri berkumpul bersama kuda kesayangan puteri. Setiap harinya, Puteri Zahara membawa Rossi bersama kuda poni kesayangannya untuk bermain bersama di taman istana. Rossi pun merasa bahagia karena dapat bertemu dan berkumpul bersama Puteri Zahara.
Penulis cerita : ALIYUL WAFA
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar